Home » Dasar Pemberantasan Penyakit » Pengendalian Vektor DBD

Pengendalian Vektor DBD

Wednesday, December 26th 2012. | Dasar Pemberantasan Penyakit, Pengendalian Vektor

Pengendalian Vektor DBDPengendalian vektor secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida yang diaplikasikan secara .space spraying. yakni pengkabutan (thermal fogging) dan Ultra Low Volume (cold fogging). Insektisida Malathion yang termasuk golongan organofosfat sudah digunakan sejak tahun 1972 di Indonesia (Sudyono, 1983). Pengendalian vektor secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida yang diaplikasikan secara .space spraying. yakni pengkabutan (thermal fogging) dan Ultra Low Volume (cold fogging). Insektisida Malathion yang termasuk golongan organofosfat sudah digunakan sejak tahun 1972 di Indonesia (Sudyono, 1983). Selain itu insektisida Bendiocarb dari golongan karbamat dengan formulasi ULV juga pernah diuji coba (Hadi, et.al., 1993). Agar ada alternatif/pilihan insektisida lain yang dapat digunakan dalam pengendalian vektor DBD maka telah banyak diuji coba insektisida dari golongan lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka dilakukan uji coba beberapa insektisida golongan pyrethroid sintetik terhadap vektor DBD Aedes aegypti yang dibandingkan dengan Malathion (Malathion 95%). Insektisidainsektisida tersebut masing-masing mempunyai kandungan bahan aktif alphacypermethrin (Fendona 30 EC); cypermethrin (Cynoff 25 ULV); lamdacyhalothrin (ICON 25 EC).

Secara umum semua bahan aktif tersebut cukup ampuh mengendalikan berbagai serangga pengganggu kesehatan. Meskipun pada dosis aplikasi yang rendah alphacypermethrin efektif sebagai racun kontak dan telan demikian halnya lambdacyhalothrin. Sementara itu untuk cypermethrin agar memberikan hasil pengendalian yang relatif sama dibutuhkan dosis yang relatif lebih tinggi.Selain itu insektisida Bendiocarb dari golongan karbamat dengan formulasi ULV juga pernah diuji coba (Hadi, et.al., 1993). Agar ada alternatif/pilihan insektisida lain yang dapat digunakan dalam pengendalian vektor DBD maka telah banyak diuji coba insektisida dari golongan lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka dilakukan uji coba beberapa insektisida golongan pyrethroid sintetik terhadap vektor DBD Aedes aegypti yang dibandingkan dengan Malathion (Malathion 95%). Insektisida-insektisida tersebut masing-masing mempunyai kandungan bahan aktif alphacypermethrin (Fendona 30 EC); cypermethrin (Cynoff 25 ULV); lamdacyhalothrin (ICON 25 EC). Secara umum semua bahan aktif tersebut cukup ampuh mengendalikan berbagai serangga pengganggu kesehatan. Meskipun pada dosis aplikasi yang rendah alphacypermethrin efektif sebagai racun kontak dan telan demikian halnya lambdacyhalothrin.Sementara itu untuk cypermethrin agar memberikan hasil pengendalian yang relatif sama dibutuhkan dosis yang relatif lebih tinggi.

Adapun hasil Persentase pingsan/kematian nyamuk Ae. aegypti yang terpapar ketiga bahan aktif insektisida di dalam rumah setelah 30 menit; 60 menit (1 jam) dan kematian setelah disimpan selama 24 jam sebagai berikut :

Setelah 30 menit Persentase pingsan/mati setelah terpapar selama 30 menit paling banyak pada malathion (100%) sedangkan yang paling sedikit pada lambdacyhalothrin (26,6%). Persentase pingsan/mati akibat paparan alphacypermethrin dan cypermethrin berturut-turut sebanyak 79,2% dan 72,8%. Setelah 60 menit (1 jam) Seiring dengan bertambahnya waktu papar maka persentase pingsan/mati juga bertambah untuk alphacypermethrin; cypermethrin dan lambdacyhalothrin masing-masing berturut-turut menjadi 83,6%; 91,6% dan

39,2%. Sementara itu untuk malathion persentase pingsan/mati masih tetap 100%.

Setelah 24 jam Pengamatan setelah penyimpanan selama 24 jam tidak menunjukkan adanya penambahan kematian nyamuk yang cukup tinggi. Untuk malathion persentase kematiannya tetap paling tinggi yakni 100% sedangkan untuk alphacypermethrin; cypermethrin dan lambdacyhalothrin berturut-turut menjadi sebesar 86%; 93,6% dan 48,8% .Persentase pingsan/mati nyamuk Ae.aegypti yang terpapar ketiga bahan aktif insektisida di luar rumah setelah 30 menit; 60 menit (1 jam) dan kematian setelah disimpan di laboratorium selama 24 jam sebagai berikut Setelah 30 menit Serupa dengan hasil paparan di dalam rumah, persentase pingsan/mati nyamuk tertinggi didapat pada malathion (99,6%) sedangkan yang terendah pada lambdacyhalothrin (35,6%). Paparan alphacypermethrin dan cypermethrin menghasilkan persentase pingsan/mati berturut-turut sebesar 78,8% dan 70,8%. Setelah 60 menit (1 jam) Jumlah nyamuk yang pingsan/mati semakin bertambah seiring dengan bertambah lamanya waktu papar masing-masing bahan aktif insektisida. Persentase pingsan/mati yang diperoleh sebesar 86,4%; 100%;80,4% dan 54% masing-masing berturut-turut untuk alphacypermethrin; malathion; cypermethrin dan lambdacyhalothrin. Setelah 24 jam Persentase kematian nyamuk setelah disimpan selama 24 jam di laboratorium menunjukkan peningkatan untuk masing-masing bahan aktif insektisida. Kecuali untuk malathion peningkatan persentase kematian untuk insektisida lain berkisar antara 2 . 6%.Persentase kematian untuk alphacypermethrin; cypermethrin dan lambdacyhalothrin

berturut-turut menjadi 88,8%; 86,4% dan 58,8%.

Dosis yang digunakan pada uji coba merupakan dosis yang biasa diaplikasikan pada pengabutan (thermal fogging). Tampak di sini bahwa untuk satuan luas yang sama yakni 1 ha diperlukan dosis cypermethrin yang jauh lebih tinggi dibanding alphacypermethrin dan lambdacyhalothrin yakni 300 ml/ha. Jika memperhatikan persentase nyamuk yang pingsan/mati pada pengamatan 30 menit dan 60 menit (1 jam) setelah pengabutan baik terhadap nyamuk yang ada di dalam maupun di luar rumah tampak bahwa .knock down effect. malathion paling besar sementara lambdacyhalothrin paling kecil.Hal serupa terlihat pula setelah disimpan (holding) di laboratorium selama 24 jam dimana persentase kematian akibat paparan lambdacyhalothrin lebih kecil dari 70%.

Dengan uji statistik menggunakan Oneway Anova dan LSD terbukti bahwa persentase kematian akibat paparan lambdacyhalothrin berbeda nyata (α = 0,05) dengan paparan ketiga bahan aktif insektisida lainnya (alphacypermethrin; malathion dan cypermethrin) sementara persentase kematian akibat paparan ketiga bahan aktif insektisida tersebut tidak saling berbeda nyata. Rendahnya persentase kematian tersebut tampaknya sesuai dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia pada tahun 1996 dimana hasil uji kerentanan yang pernah di lakukan terhadap insektisida yang berbahan aktif lambdacyhalothrin membuktikan bahwa Ae. aegypti telah resisten terhadap bahan aktif tersebut (Herath, 1997). Jadi dosis aplikasi lambdacyhalothrin yang digunakan pada uji coba kurang mampu memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Pada uji coba yang pernah dilakukan terbukti pula bahwa persentase kematian nyamuk Ae.aegypti akibat paparan malathion pada uji kerentanan malathion dengan .discriminating dosages. yang digunakan masih tinggi yakni berkisar antara 98 . 100% (Herath, 1997).

Penelitian lain mengemukakan bahwa di beberapa negara Asian seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, usaha untuk pemberantasan DBD ini lebih terfokus kepada pengendalian vektornya (Das, et al., 1982).Dalam usaha pemutusan rantai penularan penyakit ini telah dilakukan pengendalian baik terhadap stadium larva yaitu abatisasi dengan menggunakan insektisida golongan organofosfat temefos dan foging terhadap nyamuk ,dewasa dengan malation yang dilaksanakan secara rutin setiap 1-2 bulan sekali, sampai saat ini dinyatakan bahwa kedua macam insektisida tersebut mulai resisten terhadap Ae.aegypti (WHO, 1981; Upatham 1982;Lee 1984;Mazzari & Gorghiou 1995).

Di Indonesia belum pernah dilaporkan bahwa Ae.aegypti resisten terhadap abate dan malation, hal ini diperkuat dari hasil laporan Sungkar & ZuIhasril (1997). Berkembangnya resistensi vektor DBD terhadap insektisida golongan organofosfat ini mungkin saja terjadi setelah beberapa waktu kemudian. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah resistensi vektor terhadap suatu insektisida, WHO telah merekomendasikan piretroid sintetik yaitu permetrin sebagai suatu insektisida untuk digunakan dalam pengendalian vektor, karena insektisida ini selain lebih aman dan tidak berbahaya terhadap mammalia dan organisme non target, juga mempunyai daya bunuh cepat dan mempunyai efikasi lebih lama (WHO1989).Piretroid sintetik ini termasuk kedalam kelompok racun syaraf yang bekerja cepat pada susunan syaraf pusat dan syaraf tepi juga bersifat sebagai racun kontak terhadap serangga (Matsumura, 1985). Hasil uji permetrin di lapangan terlihat bahwa pad a saat dimulainya pengujian, jumlah larva dalam kendi masing masing berkisar antara 14 – 18 larva. Setelah 24 jam pemberian permetrin ke dalam masing masing kendi percobaan terlihat kematian larva 100%, baik pada kendi di luar maupun kendi yang berada di dalam laboratorium, sedangkan pada kontrol semua larva masih tetap hidup.

Pada pengamatan selanjutnya yaitu 48 jam setelah pemaparan permetrin masih belum terlihat adanya larva pada setiap kendi percobaan. Pada pengamatan hari ke 20 sejak perlakuan masih belum ditemukan larva. Percobaan pada kendi yang berada di luar laboratorium dihentikan pada hari ke 20 ini karena air dalam kendi menjadi kering, sedangkan pengamatan untuk kendi yang berada di dalam laboratorium dilanjutkan sampai pada hari ke 28 setelah perlakuan dan masih belum ditemukan larva dan pengamatan dihentikan pada hari ke 28 karena air dalam kendi juga mulai menjadi habis. Hasil ini menunjukkan bahwa daya residu permetrin dapat digunakan untuk pengendalian larva Ae.aeg1jpti di alam dan dapat bertahan sekitar 3 sampai 4 minggu atau mungkin lebih Efektifitas permetrin terhadap larva Ae.aegypti yang diperoleh dari percobaan ini lebih kuat dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan oleh peneliti terdahulu. Pada percobaan ini diperoleh LCso adalah 0.000257 mg/l atau 5.8 kali lebih kuat dibandingkan dengan LCso yang dilaporkan Winita (1994) yaitu hanya sebesar 0.0015 mg/l, sedangkan LC9S yang didapat dari percobaan ini adalah 0.000667 mg/l dan ini terlihat 6 kali lebih kuat dari hasil yang dilaporkan Winita yaitu 0.0040 mg/l, dan 40 kali lebih kuat bila dibandingkan hasil yang dilaporkan Mazzari dan Georghiou (1995) yang hanya mendapatkan hasil 0.027mg/I.

Terlihatnya perbedaan yang sangat bermakna ini disebabkan karena strain larva yang diuji berbeda, dan sehingga memberikan. respon yang tidak sama. Faktor lain yang mempengaruhi sensitivitas ini ini adalah generasi dari larva yang dipelihara di laboratorium, dimana pada percobaan ini larva yang digunakan merupakan larva generasi pertama kolonisasi laboratorium sedangkan Winita menggunakan larva kolonisasi laboratorium generasi ke 72 sehingga memberikan tingkat kepekaan yang berbeda.Hasil uji lapangan yang diperoleh dari percobaan ini sedikit berbeda bila dibandingkan dengan hasil peneliti sebelumnya, dimana efek residu yang diperoleh hanya mencapai 3 minggu (hari ke 20) untuk kendi di luar dan 4 minggu (hari ke 28) untuk kendi yang di dalam laboratorium,sedangkan hasil yang dilaporkan oleh Winita efek residu pada uji lapangan dapat mencapai sampai 7 minggu (sampai hari ke 49).

Adanya perbedaan ini disebabkan karena perbedaan dari ukuran dan bahan yang menyusun kendi yang digunakan. Pada percobaan ini, kendi yang digunakan berukuran kedl dengan volume hanya 1 liter, sedangkan peneliti lainnya menggunakan kendi dengan volume 5 liter. Selain berukuran lebih kedl, kendi yang digunakan terbuat dari tanah liat sehingga dindingnya mempunyai pori-pori yang lebih besar dan mengakibatkan penguapan lebih cepat. Berbeda dengan kendi yang digunakan peneliti sebelumnya selain berukuran besar, kendi terbuat dari keramik dengan permukaan bagian dalam lebih licin sehingga penguapan lebih rendah. Faktor lain yang cukup berpengaruh pada percobaan ini adalah cuaca, dimana percobaan ini dilaksanakan justru pada musim kemarau sehingga mempercepat penguapan air dalam kendi yang digunakan dan menyebabkan air dalam kendi akan lebih cepat berkurang sehingga penelitian lebih cepat dihentikan. Percobaan pengaruh permetrin terhadap ikan pada penelitian ini memberikan gambaran bahwa permetrin tidak memberikan pengaruh negatif terhadap organisme yang tidak ditargetkan, dengan kata lain bahwa permetrin ini aman bila digunakan di lapangan karena tidak akan mencemari lingkungan.

Selain pengguna insektisida sintetis, terdapat pula hasil penelitian lain mengenai pengendalian vektor DBD akan tetapi dengan menggunakan insektisida botani (hayati) salah salah satunya nikotin yang terkandung pada tembakau dan juga eugunol yang terkandung pada cengkeh yang dimana dilakukan penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter. Uji pendahuluan awal peneliti telah mencoba dengan konsentrasi 50gr/l, 75gr/l, dan 100gr/l. Diperolehlah konsentrasi awal 100 gr/l dijadikan untuk mencari optimal untuk membunuh 50% nyamuk Ae.aegypty

Berdasarkan pengamatan dan perhitungan jumlah nyamuk Aedes aegypty yang pada kotak perlakuan dan kontrol selang 2,3,4 jam penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter menunjukkan bahwa jumlah kematian Aedes aegypty tertinggi dari seluruh replikasi terjadi pada konsentrasi 140 gr/l yaitu sebanyak 33 ekor dengan rata-rata 11 ekor dari setiap replikasi. Jumlah kematian nyamuk Aedes aegypty terendah dari seluruh replikasi terjadi pada konsentrasi 100 gr/l yaitu sebanyak 14 ekor dengan rata-rata 4,7 ekor. Sedangkan pada kelompok kontrol jumlah nyamuk Aedes aegypty yang mati dari seluruh replikasi tidak ada (nihil)

Secara presentase rata-rata nyamuk Aedes aegypty yang mati dari tiga replikasi pada perlakuan dan kontrol terdapat perbedaan yang nyata. Pada konsentrasi 100 gr/l persentase kematian nyamuk Aedes aegypty adalah 23,35% sedangkan pada kontrol tidak terjadi kematian nyamuk Aedes aegypty atau 0%. Melihat dari persentasi kematian nyamuk Aedes aegypty bahwa semakin tinggi konsentrasi penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter maka semakin tinggi tingkat kematian nyamuk aedes aegypty.

Advertisement
tags: , , , , , , , , , , , ,

Related For Pengendalian Vektor DBD

Comment For Pengendalian Vektor DBD


Categories